POLA KEPRIBADIAN
(KONSTRUKSI DASAR PENDIDIKAN ISLAM)
Abunabiel Al-Faqier
A. Iftitah
Memperhatikan kondisi dunia pendidikan kita saat ini cukup memperihatinkan, mengingat realita pendidikan yang dihasilkan belum mampu melahirkan pribadi-pribadi muslim
yang mandiri dan berkepribadian. Akibatnya banyak tercipta
pribadi-pribadi yang berjiwa lemah, sengsara hidupnya, tidak profesional
dan proporsional (amanah/ahsanu amala). [1]
Belum
lagi generasi tua yang menyaksikan kaum muda berperilaku menyimpang
dalam kehidupan yang telah mencapai puncak keprihatinan. Masalah ini
telah banyak dikupas secara mendalam oleh para pakar betapa pentingnya
pendidikan karakter[2] (baca:
kepribadian) suatu bangsa. Selama ini praktik pendidikan kepribadian
baik di lingkup pendidikan formal, informal, maupun non formal masih
'jauh panggang dari api'. Pro kontra keberadaan pendidikan kepribadian
telah banyak menyita waktu. Yang pasti dalam jenjang formal, pendidikan
kepribadian telah dititipkan pada berbagai mata pelajaran dengan harapan
siswa akan memiliki bekal kepribadian yang baik dalam kehidupannya.
Ranah
pendidikan yang ideal mencakup kognitif (pengetahuan), psikomotorik
(keterampilan), dan afektif (sikap). Ketiga ranah ini seharusnya
dikembangkan secara optimal dan proporsional. Yang pantas dipertanyakan,
sudahkah dunia pendidikan mengembangkan secara maksimal ? Realitanya,
di setiap akhir tahun pelajaran dunia pendidikan sibuk menyukseskan
kelas akhir untuk menyongsong ujian nasional. Saking takutnya akan
kegagalan UN sekolah berupaya semaksimal mungkin dengan segala daya
untuk menggapai nilai setinggi-tingginya. Sayangnya, upaya yang
berdarah-darah tersebut baru mampu mengembangkan ranah pengetahuan
belaka (itu pun oleh sebagian kalangan masih dipertanyakan
validitasnya). Demikian juga aspek sikap begitu mudah dilupakan dan
dipinggirkan secara tidak sadar.
Lalu aspek apa saja yang harus dibenahi untuk membentuk pribadi muslim. Syaikh Hasan Al-Banna [3] menawarkan konsep untuk membentuk kepribadian Islam meliputi 10 aspek, yaitu Salim Al-Aqidah (bersihnya akidah), Shahih Al-Ibadah (lurusnya ibadah, Mantin Al-Khuluq (kukuhnya akhlak), Qadir ‘ala Al-Kasb (mampu mencari penghidupan), Mutsaqaf Al-Fikr (luas wawasan berpikirnya), Qawiy Al-Jism (kuat fisiknya), Mujahid linafsih (pejuang diri sendiri), Munazham fi syu’unih (teratur urusannya), Haris ‘ala Waqtih (memperhatikan waktunya), Naafi’ li Ghairih (bermanfaat bagi orang lain). Setiap individu harus menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. [4]
Sebagai makhluk ciptaan Allah manusia memiliki dua dimensi, yaitu dimensi spiritual dan dimensi biologis. Dalam dimensi biologi (basyar), manusia merupakan unsur tanah, hal ini selaras dengan “sesungguhnya aku mencipta basyar dari tanah” (QS. Shaad/38:71). Dalam dimensi biologis tersebut terkandung tritunggal hayat (hidup), hawa (keinginan) dan jasad. Tetapi manusia tidak semata-mata bio-fisik, karena “ketika sudah Ku sempurnakan kejadiannya lalu kutiupkan kepadanya ruh-Ku” (QS. Shaad/38:72). Dengan demikian ada dimensi ruhiah/ ilahiah dalam diri manusia dan itulah yang membuatnya memiliki spiritualitas.
Maka
dalam perjalanannya, kepribadian manusia yang terkandung sifat-sifat
hewan dan sifat-sifat malaikat yang terkadang timbul pergulatan antara
dua aspek kepribadian manusia tersebut. Adakalanya, manusia tertarik
oleh kebutuhan dan syahwat tubuhnya, dan adakalanya ia tertarik oleh
kebutuhan spiritualnya.
Al-Qur’an
mengisyaratkan pergulatan psikologis yang dialami oleh manusia, yakni
antara kecenderungan pada kesenangan-kesenangan jasmani dan
kecenderungan pada godaan-godaan kehidupan duniawi. Jadi, sangat alamiah
bahwa pembawaan manusia tersebut terkandung adanya pergulatan antara
kebaikan dan keburukan, antara keutamaan dan kehinaan, dan lain
sebagainya. Untuk mengatasi pergulatan antara aspek material dan aspek
spiritual pada manusia tersebut dibutuhkan solusi yang baik, yakni
dengan menciptakan keselarasan di antara keduanya. [5]
B. Pengertian Pola Kepribadian
Kata pola berarti gambar, desain atau konfigurasi [6]
dan kepribadian berbeda dari kata ”pribadi”. Kata yang disebut terakhir
artinya ”person” (individu, diri). Sedangkan kepribadian adalah
terjemahan dari kata bahasa Inggris ”personality” yang mulanya berasal
dari kata bahasa Latin ”per” dan ”sonare”–yang kemudian berkembang
menjadi kata ”persona”– yang berarti topeng. Pada zaman Romawi kuno,
seorang aktor drama menggunakan topeng itu untuk menyembunyikan
identitas dirinya agar memungkinkannya bisa memerankan karakter tertentu
sesuai dengan tuntutan skenario permainan dalam sebuah drama.[7]
Para
psikolog memandang kepribadian sebagai struktur dan proses psikologis
yang tetap, yang menyusun pengalaman-pengalaman individu serta membentuk
berbagai tindakan dan respons individu terhadap lingkungan tempat
hidup.[8]
Dalam masa pertumbuhannya, kepribadian bersifat dinamis, berubah-ubah
dikarenakan pengaruh lingkungan, pengalaman hidup, ataupun pendidikan.
Kepribadian tidak terjadi secara serta merta, tetapi terbentuk melalui
proses kehidupan yang panjang. Dengan demikian, apakah kepribadian
seseorang itu baik atau buruk, kuat atau lemah, beradab atau biadab
sepenuhnya ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi dalam
perjalanan kehidupan seseorang tersebut.[9]
Karenanya
kepribadian manusia selalu menjadi tema yang menarik untuk dicari tahu,
apalagi kepribadian kita sendiri. Rasa ingin tahu tersebutlah yang
lantas membuat banyak orang pergi ke psikolog untuk menjalani tes-tes
kepribadian. Semua ini dilakukan demi mengetahui “seperti apa
sesungguhnya diri kita ini?”
Manusia adalah mahluk yang “berkeyakinan” yaitu
meyakini adanya benar dan salah. Ia dibekali beberapa sifat untuk
mendekati kekuatan yang paling sempurna, ditandai dengan adanya rasa
takut, cinta dan tunduk. Ketiganya biasa disebut “perangai”, dan mungkin
merupakan perangai paling awal yang ditanamkan dalam jiwa manusia.
Ketika Al-Qur’an menjelaskan contoh manusia yang beragam dari sisi dimensi akidah pada awal surat Al-Baqarah, kata mukminin disebut sebanyak 4 ayat, sedang lawannya, al-kuffar,
disebut sebanyak 2 kali. Kemudian Al-Qur’an mengupas perihal kelompok
yang kehilangan kemanusiaan –karena tidak memiliki jati diri—dalam 13
ayat. Ayat-ayat tersebut mengungkapkan kontradiksi manusia yang
terdehumanisasi ini dengan diri dan masyarakatnya. Al-Qur’an menyebut
kelompok ini dengan sebutan al-munafiqun.
Dengan demikian, Al-Qur’an telah menerangkan model kepribadian manusia
yang memiliki keistimewaan dibanding model kepribadian lainnya. Di
antaranya adalah Surah al-Baqarah/2 ayat 1-20. Rangkaian ayat ini
menggambarkan tiga model kepribadian manusia, yakni kepribadian orang
beriman, kepribadian orang kafir, dan kepribadian orang munafik. [10]
Berikut
ini adalah sifat-sifat atau ciri-ciri dari masing-masing tipe
kepribadian berdasarkan apa yang dijelaskan dalam rangkaian ayat
tersebut.
C. Tiga Model Kepribadian Manusia dalam Al-Qur'an
1. Kepribadian Orang Beriman (Mu’minun)
Kepribadian
merupakan “keniscayaan”, suatu bagian dalam (interior) dari diri kita
yang masih perlu digali dan ditemukan agar sampai kepada keyakinan
siapakah diri kita yang sesungguhnya. Kepribadian orang yang beriman ini
Allah Subhanahuwata'alaa abadikan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 1-5, Allah Subhanahuwata'alaa berfirman:
Alif
laam miin. Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk
bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang
ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang
kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al
Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah
diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
akhirat. (QS. Al-Baqarah/2 : 1-5).
Ayat
di atas menjelaskan bahwa orang beriman dan bertakwa itu menjadikan
Al-Quran sebagai tuntunan/bimbingan dalam hidupnya dan tidak mempunyai
keraguan sedikitpun terhadap Al-Quran itu. Mereka beriman kepada yang
ghaib, menegakkan shalat dan menginfakkan rezki yang dikurniakan Allah
kepada mereka. Mereka juga beriman kepada Al-Quran, Taurat, Injil dan
Zabur serta meyakini kedatangan Hari Akhir. Mereka inilah yang
memperoleh petunjuk dan merekalah yang akan memperoleh kemenangan.[11]
Dikatakan
beriman bila percaya pada rukun iman yang terdiri atas iman kepada
Allah swt., iman kepada para malaikat-Nya, iman kepada Kitab-kitab-Nya,
iman kepada para rasul-Nya, percaya pada Hari Akhir, dan percaya pada
ketentuan Allah (qadar/takdir). Rasa percaya yang kuat terhadap rukun
iman tersebut akan membentuk nilai-nilai yang melandasi seluruh
aktivitasnya. Dengan nilai-nilai itu, setiap individu seyogianya
memiliki kepribadian yang lurus atau kepribadian yang sehat.
Kepribadian yang lurus dan sehat itu adalah, sikap tidak pernah bersikap sombong dan berbicara dengan kepada manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka (QS. Al-Furqan/25: 63)
"Dan
hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah)
orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila
orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang
mengandung) keselamatan.
Rasulullah Saw telah menjelaskan hakikat kesombongan dalam hadits beliau Saw,
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.”[12]
Inilah yang membedakan takabbur dari sifat ‘ujub (membanggakan diri, silau dengan diri sendiri). Sifat ‘ujub, hanya membanggakan diri tanpa meremehkan orang. Sedangkan takabbur, disamping membanggakan diri juga meremehkan orang.
bagimu bahwa manusia tidak akan takabbur kepada orang lain sampai dia terlebih dahulu merasa ‘ujub (membanggakan diri) terhadap dirinya, dan dia memandang dirinya memiliki kelebihan dari orang lain. Maka dari ‘ujub ini muncul kesombongan. Dan ‘ujub merupakan perkara yang membinasakan, berdasarkan sabda Nabi Saw,
ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَهُوَيَ مُتَبَعٌ وَإِعْجَابٌ اْلمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Tiga
perkara yang membinasakan: sifat sukh (rakus dan bakhil) yang ditaati,
hawa nafsu yang diikuti, dan ‘ujub seseorang terhadap dirinya.”[13]
Nabi Saw juga bersabda,
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Ketika
seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan
mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian
yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah
membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam
bumi sampai hari kiamat.”[14]
Dan orang-orang yang sombong adalah para penduduk neraka Jahannam, berdasarkan sabda Nabi Saw,
إِنَّ أَهْلَ النَّارِ كُلُّ جَعْظَرِيٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ جَمَّاعٍ مَنَّاعٍ وَأَهْلُ الْجَنَّةِ الضُّعَفَاءُ الْمَغْلُوبُونَ
“Sesungguhnya
penduduk neraka adalah semua orang yang kasar lagi keras, orang yang
bergaya sombong di dalam jalannya, orang yang bersombong, orang yang
banyak mengumpulkan harta, orang yang sangat bakhil. Adapun penduduk
sorga adalah orang-orang yang lemah dan terkalahkan.”[15]
Mereka
akan merasakan berbagai macam siksaan di dalam Jahannam, akan diliputi
kehinaan dari berbagai tempat, dan akan diminumi nanah penduduk neraka.
Nabi Saw bersabda,
يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ
“Pada
hari kiamat orang-orang yang sombong akan digiring dan dikumpulkan
seperti semut kecil, di dalam bentuk manusia, kehinaan akan meliputi
mereka dari berbagai sisi. Mereka akan digiring menuju sebuah penjara di
dalam Jahannam yang namanya Bulas. Api neraka yang sangat panas akan
membakar mereka. Mereka akan diminumi nanah penduduk neraka, yaitu
thinatul khabal (lumpur kebinasaan).”[16]
Kesombongan memiliki berbagai bahaya seperti ini; maka tidak heran jika ia merupakan dosa terbesar. Nabi Saw bersabda,
لَوْ لَمْ تَكُوْنُوْا تُذْنِبُونَ لَخِفْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبُ الْعُجْبُ
“Jika
kamu tidak berbuat dosa, sungguh aku mengkhawatirkan kamu pada perkara
yang lebih besar dari itu, yaitu ‘ujub, ‘ujub (kagum terhadap diri
sendiri).”[17]
Kepribadian yang lurus adalah kepribadian orang-orang Mukmin, sebagian sifatnya-sifatnya adalah sebagaimana digambarkan di QS. Al-Furqan/25:64-66:
"Dan
orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan
mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab
jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang
kekal”. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan
tempat kediaman.
Kepribadian yang lurus adalah pertengahan antara sikap berlebihan dan terlalu hemat (kikir) di dalam membelanjakan harta (QS. Al-Furqan/25: 67)
"Dan
orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak
berlebih-lebihan, tidak pula kikir, dan adalah pembelanjaan itu di
tengah-tengah antara yang demikian.
Dalam sebuah hadits Nabi bersabda:
لاَ تَزُولَ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتىَّ يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ مَا عَمِلَ بِهِ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kelak
kedua kaki setiap hamba tidak akan beranjak, hingga ditanyakan tentang
empat hal: tentang umurnya; ia pergunakan untuk mengamalkan apa?
ilmunya; apa yang ia perbuat dengannya? harta-bendanya; dari mana ia
peroleh dan ke mana ia belanjakan? badannya; ia pergunakan untuk
mengamalkan apa?” (HR. at-Tirmidzy, ath-Thabrany dan dishahihkan oleh al-Albani).
Kepribadian yang lurus adalah kepribadian yang taat, yang tidak menyembah selain Allah, dan tidak pula menyembah kebanyakan tuhan yang disembah manusia (QS. Al-Furqan/25: 68),"Dan
orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain selain Allah, dan
tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan
alasan yang benar, dan tidak berzina.
Dari sahabat Muadz bin Jabbal, aku membonceng di belakang Rasulullah di atas keledai, Rasulullah berkata, Ya Muadz, tahukah engkau apa haknya Allah terhadap hamba-Nya, dan apa haknya hamba terhadap Allah (tatkala hamba sudah menunaikan haknya Allah) ?, jawab Muadz, Wallahu ta’ala a’lam. Jawab Rasullah, Hak Allah terhadap hamba-Nya (kewajiban hamba terhadap Allah) yaitu agar mereka hanya menyembah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun dalam beribadah. Dan haknya hamba terhadap Allah (Apa yang Allah balas tatkala hamba sudah mengerjakan kewajibannya terhadap Allah) yaitu Allah tidak akan mengadzab mereka yang tidak menyekutukan Allah sedikitpun. Kemudian Muadz berkata kepada Rasulullah, Ya Rasulullah, Apakah boleh aku sampaikan kabar gembira kepada untuk manusia ?, Jawab Rasulullah, Jangan engkau kabarkan, karena manusia akan meninggalkan berlomba-lomba memperbanyak amalan. (HR Bukhari Muslim)
Kepribadian yang lurus adalah kepribadian yang gemar bertaubat dan tidak dibelenggu oleh berbagai macam kesalahan dan dosanya (QS. Ali Imran/3: 134-135),
"Orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain, Allah
menyukai orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka
ingat Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa
lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak
meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.
Kepribadian yang lurus adalah kepribadian yang jujur, tidak suka berbohong dan tidak melakukan berbagai perbuatan maksiat yang diharamkan Allah SWT (QS An-Nisaa'/4: 114)
"Dan
orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka
bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang
tidak berfaedah, mereka (lalui saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
Kepribadian yang lurus akan bersikap moderat dalam segala aspek kehidupan. Rendah hati di hadapan Allah Subhanahuwata'alaa dan juga terhadap sesama manusia, Senang menuntut ilmu. Sabar, Jujur, dan lain-lain. [18]
Gambaran manusia mukmin dengan segenap ciri yang terdapat dalam Al-Qur’an ini merupakan gambaran manusia paripurna (insan kamil)
dalam kehidupan ini, dalam batas yang mungkin dicapai oleh manusia.
Allah menghendaki kita untuk dapat berusaha mewujudkannya dalam diri
kita.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam
telah membina generasi pertama kaum mukminin atas dasar ciri-ciri
tersebut. Beliau berhasil mengubah kepribadian mereka secara total serta
membentuk mereka sebagai mukmin sejati yang mampu mengubah wajah
sejarah dengan kekuatan pribadi dan kemuliaan akhlak mereka. [19] Singkatnya, kepribadian orang beriman dapat menjadi teladan bagi orang lain.
Hasil gemilang pendidikan kepribadian Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam telah Allah akui dan diabadikan dalam Al-Qur'an:
"Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan
muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,
Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan
yang besar. (Q.S. At-Taubah/9 : 100)
2. Kepribadian Orang Kafir (Kaafirun)
Ciri-ciri orang kafir yang diungkapkan dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
"Sesungguhnya
orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau
tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Allah Telah
mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka
ditutup. dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al-Baqarah/2 : 6 - 7)
Ayat
diatas menjelaskan bahwa orang kafir, tidak ada pengaruh baginya
peringatan, diberi peringatan atau tidak sama saja mereka tidak beriman.
Hal itu karena Allah telah mendisfungsionalisasi mata, telinga dan hati
mereka. Karena kekufurun mereka dengan Allah dan akherat maka
peringatan terhadap mereka dengan surga dan neraka tidak efektif,
Ditakuti-takuti dengan neraka dan kemurkaan Allah tidak takut,
diimingi-imingi dengan surga tidak rindu kepadanya.
Allah menggunakan kata khatama,
menunjukkan bahwa Allah telah menutup dan menstempel hati mereka dan
pendengaran mereka, sehingga menghalangi masuknya segala peringatan.
Kufur yang menghalangi fungsi peringatan itu ada empat macam, kufur
inkar yaitu mengingkari Allah dan tidak mengakuinya sama sekali. Kufr
juhud mengenal Allah dengan hatinya tapi mengingkari dengan lisannya,
seperti kufurnya Fir’aun. Ketiga, Kufur ‘anad mengenal dengan hati
mengakui dengan lisan, tapi tidak mau memeluknya dan menerimanya dan
Kufur nifak, mengakui dengan lisan tapi mengingkari dengan hatinya.
Segala
bentuk kekufuran diatas menghalangi penerimaan kebenaran, sehingga
apapun nasehat dan peringatan tidak bermanfaat baginya. Hal itu karena
Allah telah mengunci hatinya, dan pendengarannya, sehingga cahaya iman
tidak bisa masuk ke dalamnya. Dan di matanya ada sumbatnya sehingga
tidak bisa melihat kebenaran. Inilah kondisi orang kafir yang karena
pilihannya sendiri dan kedhalimannya mati dalam kekukuran.
Tapi
apakah makna ini kita tidak mendakwahi orang kafir ? Jawabannya Tidak
boleh ayat ini dijadikan alasan tidak menyampaikan kebenaran kepada
orang kafir. Kecuali kita telah menyampaikan kebenaran dengan
argumentasi yang kuat dan keterangan yang jelas dan setelah itu kita
mengetahui apakan obyek termasuk orang yang dimasukkan dalan golongan
orang kafir yang celaka. Sehingga tidak beriman walaupun sudah
mengetahui kebenaran atau termnasuk orang kafir karena kebodohan.
Kemudian setelah mengetahui kebenaran ia mau beriman dan mengikutinya.
Alasan lainnya karena da’wah wajib disampaikan, nasehat tetap
disampaikan karena banyak orang belum masuk Islam. Karena belum
mengenalnya, atau karena syhubhat yang ada pada dirinya dalam memahami
Islam.
Ayat
di atas memberikan pelajaran bahwa pelajaran dan nasehat yang baik
bermanfaat bagi orang beriman, bertambah imannya jika dibacakan
ayat-ayat Allah, sebagaimana firman Allah :
“Tiada
lain orang beriman yaitu orang orang yang jika disebut Allah gemetar
hati mereka, dan jika dibacakan atas mereka ayat ayatNya menambahkan
mereka keimanan, dan hanya kepada rabb mereka, mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfal/8 : 2)
“Dan
jika diturunkan surat, sebagian mereka ada yang mengatakan, siapa
diantara kalian yang surat ini menambahinya keimanan, maka adapun orang
yang beriman surat ini menambahinya mereka keimanan dan mereka
bergembira”. (QS. At-Taubah/9 : 124)
Ayat
di atas menunjukkan fungsi hakiki mata, pendengaran, dan hati bukan
hanya untuk mengenal hal-hal materi. Tetapi untuk mengenal Allah,
kebenaran, kebaikan dan mengikutinya. Bisa membedakan antara yang haq
dan batil. Di mana secara materi mata dan telinga orang kafir biasa
berfunsi untuk mengenal materi, mengenal harta, wanita, jabatan dan lain
lainnya. Tapi mereka hanya mengenal sisi materi saja, adapun hal halal
haram, haq dan batilnya mereka tidak dapat membedakannya, dalam
pergaulan, bisnis, maupun politik. Bersikap pragmatis materialistik,
tidak kenal apakah hal tersebut diharamkan Allah yang membawa ke neraka,
atau halal yang membawa keberkahan dan sorga. Dan inilah yang Allah
katakan:
“Apakah
mereka tidak berjalan di muka bumi, lantas mereka punya hati dengannya
berakal, atau pendengaran dengannya mereka melihat, sesunggunya tidaklah
mereka buta mata kepala akan tetapi mereka buta hati yang ada dalam
hati. (QS. Al-Haaj/22 : 46)
Tidak
memfungsikan mata, telinga dan hati untuk mengenal kebenaran dan
mengimaninya merupakan tindak pidana yang mengantarkan kepada kekufuran,
dan menyebabkan adzab yang besar dunia dan akherat. Merendahkan derajat
sampai pada level lebih derajad daripada binatang, Allah berkata :
“Sungguh
Kami penuhi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka
punya hati tapi tidak memahami dengannya, mereka punya mata tapi tidak
melihat dengannya, mereka punya telinga tidak mendengar dengannya,
mereka seperti binatang bahkan lebih sesat, mereka dalah orang yang
lalai (QS Al’AraAf/7 : 179).
Tidak
memfungsikan panca indra dan hati karena kufur kepada Allah dan akherat
akan menjadikan kerusakan yang tak terbatas. Tidak membedakan halal dan
haram, tidak takut akan menimpakan kedhaliman kepada semua orang.
Bahkan tega mengorbankan nyawa semua manusia demi kepuasan hawa nafsu.
- Suka putus asa,
b. Tidak menikmati kedamaian dan ketenteraman dalam kehidupannya,
c. Tidak percaya pada rukun iman yang selama ini menjadi pedoman keyakinan umat Islam,
d. Mereka tidak mau mendengar dan berpikir tentang kebenaran yang diyakini kaum Muslim,
e. Mereka sering tidak setia pada janji, bersikap sombong, suka dengki, cenderung memusuhi orang-orang beriman,
f. Mereka
suka kehidupan hedonis, kehidupan yang serba berlandaskan hal-hal yang
bersifat material. Tujuan hidup mereka hanya kesuksesan duniawi,
sehingga sering kali berakibat ketidakseimbangan pada kepribadian,
g. Mereka pun tertutup pada pengetahuan ketauhidan, dan lain-lain.
Ciri-ciri orang kafir sebagaimana yang tergambar dalam Al-Qur’an tersebut menyebabkan
mereka kehilangan keseimbangan kepribadian, yang akibatnya mereka
mengalami penyimpangan ke arah pemuasan syahwat serta kesenangan
lahiriah dan duniawi. Hal ini membuat mereka kehilangan satu tujuan
tertentu dalam kehidupan, yaitu beribadah kepada Allah dan mengharap
rida-Nya untuk mengharap magfirah serta pahala-Nya di dunia dan akhirat.[20]
Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Nabi Saw bersabda : “Aku
melihat surga, dan kudapati ternyata sebagian besar penghuninya adalah
orang-orang fakir. Kemudian, aku melihat neraka, dan kudapati neraka
sebagian penghuninya wanita”. (HR. Bukhari Muslim).
Sedangkan Abdullah in Amru ra. dengan lafal : “Aku melihat neraka, dan kudapati para penghuninya adalah kebanyakan orang-orang kaya dan wanita”.
Riwayat
dari Abi Waqid Al Laitsi, ia berkata: “Kami keluar kota Madinah bersama
Rasulullah menuju perang Hunain, maka kami melalui sebatang pohon, aku
berkata: “Ya Rasulullah jadikanlah bagi kami pohon “dzatu anwaath”
(pohon yang dianggap keramat) sebagaimana orang kafir mempunyai “dzatu
anwaath”. Dan adalah orang-orang kafir menggantungkan senjata mereka di
pohon dan beri’tikaf di sekitarnya. Maka Rasulullah menjawab: “Allah
Maha Besar, permintaanmu ini seperti permintaan Bani Israil kepada Nabi
Musa: (`Jadikanlah bagi kami suatu sembahan, sebagaimana mereka
mempunyainya`), sesungguhnya kamu mengikuti kepercayaan orang sebelum
kamu.” (HR Ahmad dan Al-Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, hadits no 267).
Kami telah meriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya
Allah ‘Azza wa Jalla tidak mendhalimi orang mukmin satu kebaikan pun,
maka orang mukmin itu diberi atas perbuatan baiknya (berupa) rizki di
dunia, dan diganjar kebaikan-kebaikannya itu di akherat. Adapun orang
kafir maka diberi (balasan) kebaikan-kebaikannya di dunia sehingga
begitu habis (kebaikannya) lalu ke akherat tidak ada kebaikan lagi
baginya yang akan diberikan sebagai (balasan) kebaikan. (HR Muslim
dan Ahmad). (Al-Baghowi, Tafsir Al-Baghowi/ Ma’alimut Tanzil, Daru
Thibah, Riyad, cetakan 4, 1417H/ 1997M, juz 4 halaman 166)
3. Kepribadian Orang Munafik (Munafiqun)
Munafik berasal dari kata nafaqa yang
berarti melahirkan sesuatu yang yang bertentangan dengan hati nurani.
Dalam pengertian syara' munafik adalah orang yang secara lahir
menyatakan beriman, padahal hatinya kufur. [21]
Ciri
kepribadian orang munafik yang paling mendasar adalah kebimbangannya
antara keimanan dan kekafiran serta ketidakmampuannya membuat sikap yang
tegas dan jelas berkaitan dengan keyakinan bertauhid. Mereka ibarat
orang yang menyalakan lampu /api tetapi tidak menerangi. Ibarat orang
tuli, bisu, buta seperti saat hujan lebat gelap gulita disertai guruh
dan kilat . sekalipun penampilan mereka menarik, tapi tetap bodoh dan
tidak berbobot. [22]
Di antara sifat atau watak orang munafik yang tergambar dalam Al-Qur’an antara lain:
- Mereka adalah orang-orang yang pura-pura beriman, padahal mereka sangat benci kepada Islam.
- Mereka selalu berusaha mengadakan tindakan-tindakan permusuhan dan tipu daya untuk menghambat kemajuan Islam, namun usaha mereka sia-sia. Tindakan-tindakan itu lahir dari penyakit yang ada d dalam jiwa mereka, penyakit yang semakin lama semakin parah itu mengakibatkan penderitaan dunia akhirat.
- Mereka mengaku telah berbuat baik padahal sebenarnya mereka membuat kerusakan di muka bumi, karena usaha yang mereka lakukan selalu berujuang pada bagaimana memperoleh keuntungan materi.
- Mereka “lupa” dan menuhankan sesuatu atau seseorang selain Allah swt., Dalam berbicara mereka suka berdusta. Mereka menutup pendengaran, penglihatan, dan perasaannya dari kebenaran. Mereka juga kepribadian yang lemah, peragu, dan tidak mempunyai sikap yang tegas dalam masalah keimanan dan mereka bersifat hipokrit, yakni sombong, angkuh, dan cepat berputus asa. [23]
Rasulullah Saw. bersabda:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَف وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
"Tanda
orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata
ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila
diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya".(Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim).
Dan .
Dengan
demikian, umat Islam sangat beruntung mendapatkan rujukan yang paling
benar tentang kepribadian dibanding teori-teori lainnya, terutama
diyakini rujukan tersebut adalah wahyu dari Allah swt. yang disampaikan
kepada Nabi Muhammad saw., manusia teladan kekasih Allah. Oleh karena
itu pula, Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah swt. ke muka bumi untuk
memainkan peran sebagai model insan kamil bagi umat manusia.
Kepribadian dalam kehidupan sehari-hari mengandung sifat-sifat manusiawi
kita, alam pikiran, emosi, bagian interior kita yang berkembang melalui
interaksi indra-indra fisik dengan lingkungan. Namun lebih dalam lagi,
kepribadian sesungguhnya merupakan produk kondisi jiwa (nafs) kita yang saling berhubungan. Atau, dapat dikatakan pula bahwa kepribadian seseorang berbanding lurus dengan kondisi jiwanya (nafs).
Berangkat dari teori kepribadian di atas, maka kita dapat membagi kepribadian manusia menjadi dua macam, yaitu:
1. Kepribadian kemanusiaan (basyariyyah)
Kepribadian kemanusiaan di sini mencakup kepribadian individu dan kepribadian ummah.
Kepribadian individu di antaranya melliputi ciri khas seseorang dalam
bentuk sikap, tingkah laku, dan intelektual yang dimiliki masing-masing
secara khas sehingga ia berbeda dengan orang lain. Dalam pandangan
Islam, manusia memang mempunyai potensi yang berbeda (al-farq al-fardiyyah) yang meliputi aspek fisik dan psikis. Selanjutnya, kepribadian ummah meliputi ciri khas kepribadian muslim sebagai suatu ummah (bangsa/negara) muslim yang meliputi sikap dan tingkah laku ummah muslim yang berbeda dengan ummah
lainnya, mempunyai ciri khas kelompok dan memiliki kemampuan untuk
mempertahankan identitas tersebut dari pengaruh luar, baik ideologi
maupun lainnya yang dapat memberikan dampak negatif.[24]
2. Kepribadian samawi (kewahyuan)
Yaitu,
corak kepribadian yang dibentuk melalui petunjuk wahyu dalam kitab suci
Al-Qur’an, sebagaimana termaktub dalam firman Allah sebagai berikut.
"Dan,
bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalannya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (Q.S. al-An’am/6 : 153)
Itulah
beberapa gambaran mengenai psikologi dan kepribadian manusia dalam
Al-Qur’an. Tentu gambaran di atas belum sepenuhnya berhasil meng-cover keseluruhan
maksud Al-Qur’an mengenai manusia dengan segala kepribadiannya yang
sangat kompleks. Sebab, begitu luasnya aspek kepribadian manusia
sehingga usaha untuk mengungkap hakikat manusia merupakan pekerjaan yang
sukar.
Seyogyanya
seorang muslim sejati akan memiliki sifat; 1) atsbatuhum mauqiifan yang
paling kokoh atau tsabat sikapnya, 2) arhabuhum shadran yang paling
lapang dadanya, 3) a’maquhum fikran yang paling dalam pemikirannya, 4)
ausa’uhum nazharan yang paling
luas cara pandangnya, 5) ansyatuhum ‘amalan yang paling rajin
amal-amalnya, 6)aslabuhum tanzhiman yang paling solid penataan
organisasinya, 7) aktsaruhum naf’an yang paling banyak manfaatnya.
Walaupun
demikian, paling tidak penjelasan di atas dapat memberikan gambaran
bahwa manusia memiliki dua potensi yang saling berlawanan, yaitu potensi
baik dan potensi buruk. Dua potensi ini lantas memilah manusia ke dalam
tiga kategori, yaitu mukmin, kafir, dan munafik. Pembinaan kepribadian
manusia lewat pendidikan yang baik akan menuntun manusia agar bisa
memperkokoh potensi baiknya sehingga ia bisa memaksimalkan tugas
utamanya untuk beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah Allah di muka
bumi. Sebaliknya, pembinaan kepribadian manusia yang kurang maksimal
akan memerosokkan manusia ke dalam derajat yang sangat rendah, bahkan
lebih rendah dari binatang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar